News Update :

Bira Beach

History Phinisi

Phinisi Tana Beru

Showing posts with label Phinisi Tana Beru. Show all posts
Showing posts with label Phinisi Tana Beru. Show all posts

Ritual Mistis Dalam Pembuatan Perahu Pinisi

Ingin melihat tempat mengerjakan kapal pinisi? Kami akan mengajak anda berkunjung ke Tana Beru, Sulawesi Selatan. Perahu Phinisi adalah bukti, bahwa nenek moyang kita memang pelaut andal. Nelayan dari Suku Bugis dan  Makassar dikenal dengan kemampuan mereka membuat kapal kayu yang megah ini.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa dengan perahu yang dibuat, mereka dapat berlayar ke berbagai belahan dunia, bahkan hingga ke Afrika Selatan. Dan ini dilakukan sejak jaman dulu saat teknologi pelayaran belum maju seperti saat ini. Walaupun menjadi bagian dari sejarah masa lalu Indonesia, namun jejak kapan pinisi masih bisa kita temukan hingga sekarang. Pinisi adalah perahu dagang yang membantu warga Makassar untuk berjualan hingga ke luar wilayah Indonesia. Karena ukurannya yang besar, kapal ini bisa menampung 100 ton barang. Walaupun terbuat dari kayu, perahu pinisi mampu menerjang ombak dan badai di tengah lautan, menyeberang dari satu benua ke benua lainnya. Ciri khas dari perahu pinisi adalah 2 tiang agung atau disebut dengan sokuguru dan layar yang membentang lebar.

Tana Beru yang merupakan sentra pembuatan perahu pinisi di Sumatera Selatan. Pembuatan perahu tradisional perlahan tergerus dan tersaingi oleh perahu motor. Namun hal ini tidak berlaku bagi perajin di Tana Beru, mereka tetap setia dengan kapal tradisional yang menjadi kebanggaan Indoneia. Tana Beru berlokasi di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Produksi perahu tradisional di tempat ini sudah dilakukan sejak jaman dulu, turun menurun hingga sekarang. Permintaan terhadap kapal pinisi juga masih ramai hingga sekarang, oleh sebab itu perajin Tana Beru masih tetap berproduksi hingga sekarang.

Di dalam pengerjaan kapal pinisi, para perajin biasanya akan melakukan ritual terlebih dahulu. Pembuatan kapal ini tidak sembarangan, melainkan dicarikan hari baik lebih dulu. Hari baik biasanya adalah hari ke-5 atau ke-7 setiap bulan. Kedua angka ini menyimpan filosofi mendalam bagi warga setempat. Angka 5 berarti rezeki yang berada di tangan, sedangkan angka 7 berarti rejeki yang tidak terputus.Pada hari tersebut, perajin akan mengumpulkan kayu dan bahan baku lainnya. Proses pembuatan kapal pinisi di Tana Beru terorganisasi dengan baik, dan ada seseorang yang mengepalai proses produksi tersebut. Badan kapal pinisi adalah kayu, oleh sebab itu perajin perlu menebang pohon untuk membuatnya. Penebangan tidak boleh dilakukan sembarangan. 


Ada serangkaian upacara yang akan dilakukan oleh para perajin untuk mengusir roh yang menunggui kayu tersebut. Di dalam ritual, biasanya anak ayam dijadikan sesaji untuk diberikan kepada roh penghuni kayu tersebut. Kemudian setelah ritual selesai, para perajin Tana Beru akan mulai menebangi pohon tersebut dengan gergaji. Pekerjaan ini harus dilakukan secara terus-menerus hingga selesai. Itulah mengapa pembuatan perahu pinisi memerlukan orang-orang kuat di belakangnya.

Balok di bagian depan biasanya akan dilarung ke laut, ini sebagai simbol penolak bala. Sedangkan balok di bagian belakang di simpan di rumah, merupakan simbol istri pelaut yang selalu setia untuk menunggu sang suami pulang. Ada 126 lembar papan yang dipakai untuk membuat dasar perahu pinisi. Papan-papan disusun sedemikian rupa hingga rapat dan kokoh, kemudian dilanjutkan dengan pemasangan buritan atau tempat kemudi. Setelah badan perahu selesai dikerjakan, proses berikutnya adalah memasukkan majun ke dalam sela papan. Ini bertujuan untuk memperkuat sambungan papan-papan tersebut. Pelekat yang dipakai juga sangat sangat alami, yakni dari kulit pohon barruk. Setelah proses ini selesai, dilanjutkan dengan pemdepulan dengan campuran minyak kelapa dan kapur. Dempul sebanyak 20 kilo bisa untuk perahu dengan bobot 100 kg. Yang terakhir dari proses pembuatan kapal pinisi ini adalah peluncuran. Seperti saat menebang pohon, saat peluncuran juga diadakan ritual khusus, seperti memotong kambing atau sapi. Pemasangan baru dilakukan jika kapal sudah berhasil mengapung di laut.


DPRD Bulukumba Minta Phinisi Dipatenkan

Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan terkenal dengan julukan kota Panrita Lopi atau ahli membuat perahu. Sehingga industri perahu terutama perahu pinisi banyak memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah daerah.
Selain perahu jenis pinisi, nama Bulukumba terus mencuat dengan hadirnya perahu-perahu jenis padewekkang, lambo, maupun perahu jenis lepa-lepa yang merupakan kreatifitas masyarakat bulukumba.

Namun sangat disayangkan, perahu-perahu yang sudah terkenal hingga ke mancanegara itu membuat pemerintah kabupaten masih merasa khawatir, karena nama salah satu perahu jenis pinisi sampai saat ini belum dipatenkan oleh pemerintah, kata Amar Ma'ruf, anggota Komisi B DPRD Bulukumba.
"Kabupaten ini sudah cukup terkenal, namun sangat disayangkan jika hak paten pinisi yang merupakan titipan nenek moyang kita belum juga dipatenkan. Buat apa harus ada promosi jika hak paten itu belum kita pegang," sahut Amar.

Dia berharap agar pemerintah segera mematenkan pinisi sebagai ikon atau lambang Bulukumba agar tidak ada daerah yang dapat mencaplok peninggalan nenek moyang Bulukumba tersebut.
Maraknya isu yang beredar mengenai pencaplokan pinisi dari daerah luar, Bupati Bulukumba, Zainuddin Hasan dalam waktu dekat akan segera mematenkan pinisi sebagai ikon atau lambang Kabupaten Bulukumba.

"Tidak ada alasan orang luar mengklaim pinisi adalah icon mereka, karena pinisi itu dibuat langsung dari tangan-tangan masyarakat dari Desa Ara, Kecamatan Bontobahari. Insya Allah saya akan segera mengurus izin patennya dari Kementrian Hukum dan HAM melalui Hak Kekayaan Intelektual (HKI)," jelasnya.

Untuk saat ini, kata Zainuddin Pemerintah Kabupaten Bulukumba baru memegang hak desain kapal pinisi yang dikeluarkan oleh Kementrian Hukum dan HAM

Phinisi Memiliki Keunikan yang Tidak Akan Ditemukan di Belahan Dunia Manapun

PERAHU ini memiliki corak dan keunikan yang tidak akan ditemukam di belahan dunia manapun. Keunikan tersebut sekaligus menunjukkan keahlian para pembuat perahu Pinisi. Khususnya, dalam hal merangkai dinding kapal. Betapa tidak, rangkaian kapal bisa tersusun rapi meskipun harus dibuat dalam desain yang melengkung. Malah yanglebih mengherankan lagi karena dalam proses pembuatannya lebih dulu disusun papan atau dinding dibanding rangka atau tulang.

Uniknya, tidak hanya perahu ukuran kecil saja. Tetapi sampai perahu besar dikerjakan dengan cara yang sama. Bahkan salah seorang tokoh Pinisi di Bontobahari, Patta Lolo menyebut salah satu perahu Pinisi pengangkut barang terbesar yang dibuat 1973 berbobot maksimal 200 ton dikerjakan dengan teknik seperti itu. Padahal kapal ini cukup besar karena selain barang, kapal ini bisa memuat ABK hingga 30 orang . Panjang tiang Pinisi yang diberi nama Panji Nusantara ini pun sangat luar biasa karena mencapai ketinggian 35 meter.
Keunikan lain dari Pinisi adalah dari segi ritual adatnya. Dalam tradisi pembuatan Pinisi senantiasa dilakukan pemotongan ayam lebih dulu dan mengambil darahnya sebagai bahan ritual adat. Maksud dari ritual ini adalah pengharapan agar dalam penggunaan kapal ini tidak memakan korban manusia. “Harapannya, hanya ayam yang selalu dikeluarkan darahnya untuk disantap di atas kapal. Ini juga pertanda kemakmuran dan keamanan serta perlindungan bagi siapa saja yang memanfaatkannya,” tandas Abdullah, tokoh lainnnya.

Lantas bagaimana asal mula perahu ini? Tentu tidak muncul begitu saja. Desain kapal dengan corak khas dua tiang dan tujuh layar ini dalam sejarah disebutkan sebagai sebuah hasil evolusi dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Mulai dari perahu tanpa lunas atau dasar kapal hingga perahu dengan desain lunas. Perahu tanpa lunas adalah jenis perahu sampan terbuat dari batang kayu yang dikeruk atau banyak disebut dengan perahu lesung.

Dalam bahasa Bugis-Makassar disebut dengan lepa-lepa. Kapasitas perahu jenis ini sangat bergantung dari besar kecilnya batang pohon dan biasanya hanya dipergunakan pada daerah yang memiliki gelombang dalamskala kecil.
Perahu tanpa lunas lainnya adalah perahu Soppe’. Perahu ini merupakan pengembangan dari perahu jenis sampan dengan tujuan menambah kapasitas muat kapal. Itu sebabnya, desain perahu ini menambah papan pada bagian lambung kapal dan menambah tingginya. Pada sisi kiri dan kanan diberikan alat penyeimbang yang terbuat dari bambu atau kayu ringan. Perahu jenis ini mulai digunakan untuk alat transportasi dalam ukuran kecil.

 Lalu ada pula bernama perahu Jarangka. Bentuknya mirip dengan perahu Soppe. Hanya ukurannya yang lebih panjang yakni antara enam sampai tujuh meter. Evolusi desain perahu Pinisi juga bisa dilihat berdasarkan buku rujukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bulukumba yang ditulis Muhammad Arief Saenong. Dalam buku tersebut disebutkan beberapa jenis kapal yang menggunakan lunas sebagai cikal bakal perahu Pinisi. Dimulai dengan keberadaan perahu Pa’dewakang yang merupakan perahu kuno pertama dimana dindingnya terdiri dari kepingan-kepingan papan yang tersusun.

Perkembangan selanjutnya yang sebagian besar tokoh Pinisi di Bulukumba menyebut awal mula Pinisi adalah munculnya perahu Pajala disusul perahu Patorani. Kedua perahu ini muncul dalam waktu yang tidak lama dan bentuknya pun hampir sama.

Perahu Pajala ini berdasarkan hasil penelitian G.A Harridge pada 1979 menyebutkan bahwa lambung kapal (hull) dan teknik pembuatan perahu pajala merupakan dasar pembuatan perahu di Sulawesi Selatan. Ini beradasar pada konstruksi lambung yang relatif sama dengan perahu pada umumnya. Perkembangan selanjutnya ada yang disebut perahu Lopi Niadara, perahu Ba’go dan perahu Lambok yang semuanya adalah pengembangan perahu Pajala.

Evolusi selanjutnya pasca tipe perahu Pajala dengan berbagai tipe lainnya yang tidak jauh berbeda. Muncullah perahu jenis Salompong. Perahu Salompong ini merupakan modifikasi yang dilakukan para pembuat perahu dengan jalan menambah susunan papan lamma dengan jalan diikat (nisekko). Tambahan susunan papan ini kemudian dilebihkan ke belakang yang dibentuk menjadi “rembasang”. Kapasitas perahu jenis ini terbagi atas Salompong kecil dengan kapasitas 10 sampai 15 ton dan Salompong besar hingga 30 ton.

Dari perahu jenis Salompong ini, evolusi menuju pinisi konon juga diantarai munculnya perahu jenis Palari. Bahkan jenis perahu yang memulai menggunakan dua tiang dan tujuh layar.
Rentetan evolusi ini yang kemudian melahirkan sebuah kapal unik dengan corak khas tersendiri yakni perahu Pinisi yang terkenal dengan ekspedisi internasional Pinisi Nusantara ke Vancouver Kanada 1986 dan Pinisi Ammana Gappa yang mencapai Madagaskar pada 1991 silam.
Hanya saja, keberadaan perahu Pinisi ini juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah Sawerigading yang berkuasa di Luwu sekira abad ke XIV. Salah seorang tokoh pembuat Pinisi, Abdullah menyebut, konon asal mula perahu Pinisi berasal dari cerita terbelahnya kapal Sawerigading sepulang dari Tiongkok untuk menikahi seorang putri bernama We Cudai.

Cerita terbelahnya kapal Sawerigading ini berasal dari sumpah Sawerigading yang berjanji tidak akan kembali lagi ke tanah Luwu setelah meninggalkan tanah kelahirannya untuk menemui We Cudai. Keputusan Sawerigading meninggalkan kampung halamannya lantaran dihalangi menikahi saudara kandungnya sendiri, Watenri Abeng.
Sawerigading diceritakan meninggalkan kampungnya karena bujukan Watenri Abeng sendiri. Sawerigading diminta menemui seorang gadis cantik bernama We Cudai yang berada di negeri Tiongkok yang disebutnya persis mirip dengan wajahnya.

Sawerigading mengabulkan permohonan Watenri Abeng ini dan memutuskan menemui We Cudai dengan menggunakan perahu Welengrenge. Perahu tersebut konon muncul setelah terjadi sesuatu peristiwa ajaib. Diceritakan Abdullah bahwa saat itu perahu Sawerigading sudah lapuk dan tidak memungkinkan untuk perjalanannya.
Maka, ditebanglah pohon besar yang ada di Gunung Welengrenge suatu bukit di tanah Luwu. Namun, saat ditebang tiba-tiba kayu besar itu meluncur ke laut kemudian muncul perahu yang megah. Perahu ini kemudian digunakan untuk berlayar hingga berhasil menemui We Cundai. Sawerigading hidup bahagia bersama We Cudai mendapatkan keturunan yakni I Lagaligo. Setelah Sawerigading sekian lama di China dia pun rindu kampung halamannya dan lupa dengan sumpahnya untuk tidak kembali lagi.

Inilah yang menurut cerita menjadi petaka bagi Sawerigading yang membuat perahu Welengrenge ini terbelah saat mendekat tanah Luwu. Dari peristiwa ini bagian kapal Sawerigading terbelah tiga dan terdampar di Bontobahari. Masing-masing bagian lunas pada haluan sampai buritan terdampar di dusun Lemo-lemo Tanah Beru. Papan dan seluruh bagian lambung kapal terdampar di Dusun Ara. Sedangkan tali temali serta layar terdampar di Bira. Dari ketiga bagian ini menurut sejarah yang kemudian dirakit warga setempat. Itu sebabnya, pada tiga desa tersebut terkenal dengan keahliannya masing-masing. Orang Ara ahli dalam membuat bodi kapal, orang Lemo-lemo ahli dalam membuat dan dasar dan mempekerjakan, dan orang Bira ahli dalam berlayar. “Itu cikal bakal sebenarnya,” kata Abdullah

Mengenal Konstruksi Perahu Layar Phinisi Nusantara

Phinisi Nusantara adalah nama resmi yang diberikan Presiden Soeharto pada perahu Pinisi yang (ketika itu) akan mengemban tugas penuh prestise, membawa keharuman kepulauan Nusantara ke mancanegara, khususnya pada Vancouver Expo'86 di Canada, (dilanjutkan ke San Diego) Amerika Serikat. Menempuh jarak 11.000 + 1650 mil laut dalam tempo 67 hari.

Inilah satu-satunya kapal kayu (panjang 31 meter, bobot 150 ton) yang mendapatkan penghormatan militer dari kapal induk militer Amerika USS Constelation ketika Phinisi melaju di English Bay dan berpapasan dengan kapal induk berbobot mati 80,000 Ton, terbuat dari baja dengan bertenaga nuklir, yang tengah sandar di sana. Tak pelak lagi, kehadiran Phinisi telah mengundang kekaguman seluruh awak kapal yang hadir ketika itu. Mereka tak habis pikir, bagaimana mungkin sebuah kapal kayu, bisa menempuh ribuan mil dan berhasil tiba dengan selamat di pantai barat Amerika? Bagaimana sebenarnya konstruksi kapal kayu 'made in Indonesia' ini  dibuat?

Legenda 

Penambahan huruf 'H' di antara huruf 'P' dan 'I' dari PINISI sehingga menjadi PHINISI adalah untuk menyesuaikan dengan lafal Inggris di Vancouver dan bagi mereka yang biasa berbahasa Inggris. Sebelum diajukan kepada presiden Soeharto, pihak Panitia telah mempersiapkan dua nama pilihan yaitu AMANNA GAPPA dan SAWERIGADING.

Amanna Gappa adalah nama seorang tokoh hukum laut legendaris dari Sulawesi Selatan di abad XVII. Kumpulan tulisannya tentang hukum laut yang diabadikan di daun lontar terkenal sampai ke Eropa.

Sedangkan SAWERIGADING   menurut legenda rakyat Bugis, merupakan putera mahkota kerajaan Gowa yang jatuh cinta kepada We Tenri Abeng yang tidak lain adalah saudara kembarnya, yang sejak kecil memang dipisahkan. Maka seluruh kerabat kerajaan  tentu menentangnya dan menganjurkan agar Sawerigading berlayar ke Teluk Bone dan mencari jodoh di sana. Sawerigading setuju dengan syarat agar kepadanya diberikan sebuah perahu baru.

Maka kakeknya La Toge Langi yang terkenal sakti membuatkan sebuah perahu  untuknya yang selesai dalam semalam. Sang putera mahkota kemudian berlayar ke Teluk Bone dan bertemu dengan gadis cantik yang mirip dengan We Tenri Abeng.

Mereka menikah dan Sawerigading bersumpah tidak akan kembali ke kampung halamannya. Tetapi waktu berlalu dan rasa rindu kampung halaman menyebabkan dia pulang dengan perahunya, melanggar sumpahnya sendiri. Di selat Selayar perahunya pecah  diterjang badai dan Sawerigading tenggelam. Perahu yang pecah tersebut terdampar di desa Ara dan dirakit kembali. Dari situlah prototipe perahu pinisi berkembang sampai saat ini.

Konstruksi

> Perahu Phinisi umumnya dibangun dengan bentuk lambung (badan perahu) yang sama yaitu berbentuk sabut kelapa atau ketimun, dilengkapi dengan 7 buah layar terdiri dari 3 layardepan (jib sails), 2 layar utama (main sails) dan 2 layar puncak (top sails).

> Ada dua kemudi guling di sisi kanan dan kiri bagian belakang yang berfungsi mengatur arah perahu, dan mengimbangi layar, menjaga kestabilan perahu. Selain itu kemudi guling juga berfungsi sebagai pengukur kedalaman perairan (depth sounder) untuk menjaga agar perahu tidak kandas. Meski  pada PLM (perahu layar motor) terdapat pelat kemudi di tengah belakang baling-baling perahu, namun konstruksi guling umumnya tetap dipertahankan untuk kemudahan mengatur perahu saat pemakaian layar.

> Perbandingan panjang terhadap lebar perahu di tengah (L/B) yang relatif kecil (2,6-3,2) dan perbandingan lebar terhadap kedalaman /sarat (B/T) yang relatif besar (2,5-2,8) memberikan jaminan adanya sifat stabilitas yang baik disamping kemantapan untuk gerak dengan memakai layar yang umumnya memiliki luas yang lebih besar dari pada lateral perahu (LxT). Selain itu perbandingan panjang terhadap tinggi geladak perahu (L/H) yang relatif kecil (6,5-8) memberikan sifat kekakuan pada kekuatan memanjang.

Ritual Adat Peluncuran Perahu Phinisi Di Tanjung Bira

Sebuah perahu phinisi berukuran jumbo kini sudah berada di lautan dan bersiap-siap mengarungi samudra yang luas. Perahu tradisional khas Kabupaten Bulukumba itu akan berlayar dari Pantai Panrang Luhu, Desa Bira, Kecamatan Bontobahari, Bulukumba, menuju Polandia di Eropa.
Perahu phinisi adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia, yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan, yang pembuatannya umumnya dilakukan oleh orang-orang Bulukumba di tepi laut sebuah desa di Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba.
Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang. Perahu phinisi umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antarpulau. Tujuh buah layar di perahu phinisi konon melambangkan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berani dan mampu mengarungi tujuh samudra besar di dunia.
Meskipun zaman sudah modern bahkan kini kita sudah berada di era milenium, pembuatan dan peluncuran perahu phinisi hingga kini masih diwarnai acara ritual adat.
Peluncuran perahu phinisi jumbo berukuran panjang 50 meter, lebar 10 meter, kedalaman 5 meter, serta tonase sekitar 800 - 900 ton, di Pantai Panrang Luhu, Desa Bira, Kecamatan Bontobahari, Bulukumba, dilakukan dengan melangsungkan ritual adat pada Selasa malam, 8 November 2011, disaksikan sejumlah pejabat dan masyarakat Bulukumba.
Haji Baso Muslim yang memimpin pembuatan perahu tersebut menjelaskan, perahu phinisi yang dibuat atas pesanan dari Polandia dengan harga pemesanan sekitar Rp 4 miliar itu, kondisinya belum sempurna seratus persen.

“Belum sempurna, kira-kira baru 75 persen. Selanjutnya akan dikirim ke Semarang untuk dilengkapi dengan radar, interior, perlengkapan navigasi, serta kelengkapan lainnya,” jelas Baso Muslim.

Ritual Pembuatan
Biasanya, para pengrajin harus menghitung hari baik untuk memulai pencarian kayu sebagai bahan baku pembuatan perahu phinisi. Hari baik itu biasanya jatuh pada hari kelima dan hari ketujuh pada bulan yang berjalan. Angka 5 (naparilimai dalle’na) yang artinya rezeki sudah di tangan, sedangkan angka 7 (natujuangngi dalle’na) berarti selalu memperoleh rezeki. Setelah mendapat hari baik, kepala tukang yang disebut “punggawa” kemudian memulai memimpin pencarian kayu.
Pada saat peletakan lunas, juga harus disertai prosesi khusus. Saat dilakukan pemotongan, lunas diletakkan menghadap Timur Laut. Balok lunas bagian depan merupakan simbol lelaki. Sedang balok lunas bagian belakang diartikan sebagai simbol wanita. Usai dimanterai, bagian yang akan dipotong ditandai dengan pahat. Pemotongan yang dilakukan dengan gergaji harus dilakukan sekaligus tanpa boleh berhenti. Itu sebabnya untuk melakukan pemotongan harus dikerjakan oleh orang yang bertenaga kuat. Demikian selanjutnya setiap tahapan selalu melalui ritual tertentu.

Acara peluncuran perahu phinisi berukuran jumbo di Pantai Panrang Luhu, Desa Bira, Kecamatan Bontobahari, Bulukumba, pada Selasa malam, 8 November 2011, seperti biasanya, diawali dengan prosesi ritual adat.
Sebagaimana biasa pula, ritual adat dimulai dengan upacara appasili atau tolak bala. Seperti dilaporkan Ubayd dalam situs web Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bulukumba (http://bulukumbatourism.com/), untuk kelengkapan upacara appasili sebelumnya telah disiapkan seikat dedaunan yang terdiri dari daun sidinging, sinrolo, taha tinappasa, taha siri, panno-panno yang diikat bersama pimping. Selain itu, juga disiapkan kue-kue tradisional seperti gogoso’, onde-onde, songkolo’, cucuru’, dan lain-lain.
Upacara dimulai tepat pada pukul 21.00 wita. Pembuat kapal dan sanro (dukun), serta tamu khusus dan tokoh masyarakat duduk berhadap-hadapan di atas geladak kapal mengelilingi kelengkapan upacara yang akan dipakai dalam upacara appasili.
Tak lama kemudian, terlihat mulut sanro berkomat-kamit membacakan mantera-mantera songkabala atau tolak bala. Di depan sang sanro terdapat sebuah wajan yang berisi air (dari mata air) dan seikat dedaunan untuk membacakan mantera dengan khidmat dan khusuk. Air tersebut kemudian dimantera-manterai sambil diaduk-aduk dengan menggunakan seikat dedaunan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Setelah pembacaan mantera selesai, tersebut dipercikkan ke sekeliling perahu dengan cara dikibas-kibaskan dengan ikatan dedaunan tadi. Setelah upacara selesai, kemudian para tamu dijamu dengan penganan tradisional.

Ritual Ammossi
Puncak acara ritual adalah ammossi, yakni penetapan dan pemberian pusat pada pertengahan lunas perahu yang selanjutnya akan dilakukan penarikan perahu ke laut. Pemberian pusat ini berdasar pada kepercayaan bahwa perahu adalah “anak” punggawa / panrita lopi (pembuat perahu). Berdasar pada kepercayaan itu, maka upacara ammossi merupakan merupakan simbolisasi pemotongan tali pusar bayi yang baru lahir.
Sebelum prosesi ammossi dilakukan, seluruh kelengkapan upacara disiapkan di sekitar pertengahan lunas perahu yang merupakan tempat upacara. “Punggawa” atau pembuat perahu berjongkok di sebelah pertengahan lunas perahu berhadapan dengan sanro. Tak lama kemudian mulut sanro berkomat-kamit membacakan mantera sambil membakar kemenyan. Selesai membaca mantera, sang sanro membuat lubang di tengah kalabiseang, selanjutnya kalabiseang dibor sampai tembus ke sebelah kanan lunas perahu.
Setelah prosesi ammossi selesai, dimulailah ritual penarikan perahu ke tengah laut. Prosesi ini dahulunya memanfaatkan tenaga manusia yang sangat banyak untuk menarik perahu ke laut, namun karena tonase perahu sangat berat, prosesi ini sudah menggunakan peralatan yang lebih “modern”, yaitu katrol.
Pada prosesi peluncuran malam itu, penarikan perahu phinisi menggunakan katrol dan rantai sebagai simbolisasi penarikan perahu. Perahu yang ditarik sudah dianggap masuk ke laut jika badan perahu telah menyentuh air laut.

Sejarah Phinisi
Perahu Phinisi telah digunakan di Indonesia sejak beberapa abad yang lalu. Perahu phinisi diperkirakan sudah ada sebelum tahun 1500-an. Menurut naskah Lontarak I Babad La Lagaligo, perahu phinisi (ketika itu belum diberi nama phinisi) pertama sekali dibuat oleh Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu, pada abad ke-14, untuk berlayar menuju Negeri Tiongkok. Sawerigading menuju Tiongkok untuk meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai.
Sawerigading berhasil sampai di Negeri Tiongkok dan juga berhasil memperisteri Puteri We Cudai. Setelah beberapa lama tinggal di Negeri Tiongkok, Sawerigading kembali ke kampung halamannya dengan menggunakan perahu phinisinya ke Luwu.
Menjelang masuk perairan Luwu, perahu phinisi diterjang gelombang besar dan perahu tersebut terbelah tiga yang terdampar di Desa Ara, Desa Tanah Beru, dan Desa Lemo-lemo. Masyarakat pada ketiga desa tersebut kemudian merakit pecahan kapal tersebut menjadi perahu yang kemudian dinamakan Phinisi.

Dua Jenis
Ada dua jenis perahu phinisi, yaitu Lamba atau Lambo dan Palari. Phinisi jenis lamba atau lambo adalah perahu phinisi modern yang masih bertahan sampai saat ini dan sekarang dilengkapi dengan motor diesel (PLM), sedangkan perahu phinisi jenis palari adalah bentuk awal perahu phinisi dengan lunas yang melengkung dan ukurannya lebih kecil dari jenis Lamba.

Terancam Punah
Para pengrajin perahu Phinisi di Kabupaten Bulukumba telah beberapa kali memasarkan perahu phinisi ke luar negeri. Negara yang menjadi pasar mereka antara lain Singapura, Papua Nugini, Polandia, Australia, Perancis, Jerman, dan sejumlah negara Eropa lainnya.
Meskipun namanya sudah terkenal ke seantero dunia, perahu phinisi harus menghadapi kenyataan bahwa “mereka” kini terancam punah. Kendala utama yang dihadapi para pengrajin perahu phinisi di Bulukumba saat ini adalah masalah kayu atau bahan baku pembuatan perahu phinisi.
Bahan baku kayu selama ini didatangkan dari Kalimantan. Kebijakan pemerintah yang membatasi pengadaan kayu dari Kalimantan membuat banyak pengrajin perahu yang pindah ke Kalimantan, Papua, dan Kendari, Sulawesi Tenggara.
“Kalau mereka pindah, jelas yang dirugikan adalah Bulukumba sendiri karena kehilangan orang-orang potensial,” kata Kadisbudpar Bulukumba, Andi Nasaruddin Gau, kepada wartawan di Bulukumba, seperti diberitakan harian Tribun Timur, Makassar, Senin, 7 November 2011.
Nasaruddin berharap Pemprov Sulsel turun tangan mencari solusi agar pengrajin Phinisi di Bulukumba tidak punah.



Perahu Phinisi Legenda Penjelajah Laut Indonesia [Riwayatmu Kini]

Mungkin banyak diantara kita yang masih ingat tentang sebuah kapal layar yang terbuat dari kayu dan diberi nama Phinisi Nusantara.

Kapal ini memiliki nama yang melegenda dan hampir semua pelaut di tanah air tahu nama ini. Phinisi Nusantara memang telah mencatat pelayarannya yang bersejarah saat berhasil menyeberangi samudera Pasifik untuk menuju Vancouver, Kanada.

Samudera yang terkenal ganas ini berhasil ditaklukan oleh sebuah kapal yang terbuat dari kayu, Phinisi Nusantara. Meskipun pada awalnya misi pelayaran spektakuler ini banyak diragukan orang, tapi Capt. Gita Ardjakusuma beserta 11 orang awak kapalnya berhasil menyelesaikan tugas ini dengan baik.

Rintangan pada jalur pelayaran yang terkenal berbahaya di Samudera Pasifik dapat diatasi dengan baik hingga Phinisi Nusantara merapat dengan selamat di Vancouver.

Itu adalah kisah 23 tahun yang lalu. Misi pelayaran Phinisi Nusantara dirancang guna berpartisipasi pada Expo '86 yang diselenggarakan di Vancouver, Kanada. Keseluruhan proyek pelayaran ini diprakarsai dan dikelola oleh Yayasan Phinisi Indonesia Raya (YPIR) yang ketuai Laksamana TNI (Purn) Soedomo.

Kapal yang memiliki panjang 37 meter dan berbobot 120 ton ini memulai pelayaran bersejarahnya pada tanggal 9 Juli 1986. Bertolak dari dermaga perikanan Muara baru, Jakarta Utara dengan tujuan Vancouver.

Rute pelayaran yang dilalui sungguh berat dengan ombak yang dikabarkan hingga setinggi 7 meter. Jauh lebih tinggi dibanding tiang listrik. Apalagi menurut Capt. Gita, mereka harus berlayar melawan angin. Setelah menempuh pelayaran sejauh 10.600 mil yang memakan waktu selama 68 hari akhirnya mereka dengan sukses mencapai tujuan, Vancouver.

Di pelabuhan Marine Plaza, kapal beserta awaknya banyak mendapat sambutan dari masyarakat Vancouver.

Kabarnya setiap harinya kapal ini dikunjungi tidak kurang dari 3.000 orang pengunjung. Terlebih pada tanggal 21 September 1986, Phinisi Nusantara didatangi 25.000 pengunjung.

Kota Vancouver memang memiliki sejarah bahari yang cukup panjang. Bagi mereka, kedatangan Phinisi Nusantara, sebuah kapal kayu dengan reputasi internasional yang berhasil menyeberangi Samudera Pasifik ini benar-benar mendapat perhatian yang penuh antusias. Dikabarkan, kedatangan Phinisi Nusantara di arena Expo '86 itu dengan serta-merta langsung membuat stand Indonesia yang semula jarang didatangi orang mendadak dipenuhi pengunjung. Bahkan stand Indonesia mendapat sebuah penghargaan berupa paku rel kereta api yang merupakan simbol peringatan 100 tahun Trans Canada yang menjadi lambang transportasi masa lalu. Penghargaan ini hanya diberikan kepada 3 negara peserta Expo '86 yang dinilai paling spektakuler.

Phinisi Nusantara waktu itu benar-benar melambungkan nama Indonesia di mata Internasional. Di dunia internasional, perahu Phinisi baru dikenal sejak 1906 silam. Perahu itu adalah bentuk termodern dari kapal tradisional orang Bugis-Makassar yang telah mengalami proses evolusi panjang. Kapal itu dibuat sebagai perahu layar dengan dua tiang dan tujuh hingga delapan helai layar.

Pada umumnya perahu ini berukuran kecil dengan daya muat antara 20 hingga 30 ton dan panjang antara 10 hingga 15 meter. Hampir keseluruhan pembuatan perahu dilakukan dengan teknik-teknik sederhana dan mengunakan tenaga mesin yang sangat minim.

Sekarang mari kita flashback ke awal sejarah adanya perahu phinisi di ujung selatan pulau Sulawesi, di mana masyarakat setempat membangun sebuah tradisi bahari selama ratusan tahun. Cerita-cerita tentang keperkasaan para pelaut Bugis, Makassar, Mandar, dan Konjo telah menjadi buah bibir hingga ke pelosok negeri nun jauh di seberang lautan. Keindahan dan kekokohan perahunya dalam menghadapi keganasan ombak lautan, telah melahirkan cerita-cerita kepahlawanan yang mengagumkan.

Kisah tentang perahu Phinisi dari Tanah Beru dan para pelaut dari Bira, Kabupaten Bulukumba, yang mengemudikannya, kini sudah bukan cerita asing lagi. Namun tak banyak yang mengetahui kehebatan para pelaut dari ujung selatan Sulawesi ini dibangun dari tradisi panjang. Budaya itu didasarkan pada mitos tentang penciptaan perahu pertama oleh nenek moyang mereka.

Alkisah dalam mitologi masyarakat Tanah Beru, nenek moyang mereka menciptakan sebuah perahu yang lebih besar untuk mengarungi lautan, membawa barang-barang dagangan dan menangkap ikan. Saat perahu pertama dibuat, dilayarkanlah perahu di tengah laut. Tapi sebuah musibah terjadi di tengah jalan. Ombak dan badai menghantam perahu dan menghancurkannya. Bagian badan perahu terdampar di Dusun Ara, layarnya mendarat di Tanjung Bira dan isinya mendarat di Tanah Lemo.

Peristiwa itu seolah menjadi pesan simbolis bagi masyarakat Desa Ara. Mereka harus mengalahkan lautan dengan kerjasama. Sejak kejadian itu, orang Ara hanya mengkhususkan diri sebagai pembuat perahu. Orang bira yang memperoleh sisa layar perahu mengkhususkan diri belajar perbintangan dan tanda-tanda alam. Sedangkan orang Lemo-lemo adalah pengusaha yang memodali dan menggunakan perahu tersebut. Tradisi pembagian tugas yang telah berlangsung selama bertahun-tahun itu akhirnya berujung pada pembuatan sebuah perahu kayu tradisional yang disebut Phinisi.

Kini keyakinan mistis terhadap mitologi kuno itu masih kental dalam setiap proses pembuatan Phinisi. Diawali dengan sebuah ritual kecil, perahu Phinisi dibuat setelah melalui upacara pemotongan lunas. Upacara itu dipimpin seorang pawang perahu yang disebut Panrita Lopi. Berbagai sesaji menjadi syarat yang tak boleh ditinggalkan dalam upacara ini seperti semua jajanan harus berasa manis dan seekor ayam jago putih yang masih sehat. Jajanan menimbulkan keinginan dari pemilik agar perahunya kelak mendatangkan keuntungan yang tinggi. Sedikit darah dari ayam jago putih ditempelkan ke lunas perahu.

Ritual itu sebagai simbol harapan agar tak ada darah tertumpah di atas perahu yang akan dibuat. Kemudian, kepala tukang memotong kedua ujung lunas dan menyerahkan kepada pemimpin pembuatan perahu. Potongan ujung lunas depan di buang ke laut sebagai tanda agar perahu bisa menyatu dengan ombak di lautan. Sedang potongan lunas belakang di buang ke darat untuk mengingatkan agar sejauh perahu melaut maka dia harus kembali lagi dengan selamat ke daratan. Pada bagian akhir, Panrita Lopi mengumandangkan doa-doa ke hadapan Sang Pencipta.

Perahu Phinisi Penjelajah Nusantara Berbalut Kemewahan

Sejak berabad silam, Indonesia telah dikenal sebagai negara maritim. Sebut saja Marcopolo sampai Raja Balaputradewa dari Kerajaan Sriwijaya tahu betul bagaimana mengarungi zamrud khatulistiwa. Eksotisme kepulauan negara ini memang seperti tak ada tandingannya, dari ujung Pulau Weh sampai Raja Ampat menyimpan pesonanya masing-masing. Ribuan pulau yang tersebar di seluruh Nusantara menjadikan nenek moyang bangsa Indonesia sebagai pelaut handal. Tak peduli debur ombak dan badai, samudera seolah permadani alam yang menantang untuk diseberangi.

Masih ingatkah Anda dengan lagu semasa kecil berlirik "Nenek moyangku, seorang pelaut. Gemar mengarung luas samudera."? Ya, banyak suku bangsa di Indonesia yang hidup sebagai pelaut. Orang Bugis di Makassar salah satunya. Suku ini terkenal dengan satu jenis perahunya yang melegenda di Indonesia, bahkan dunia internasional. Perahu Phinisi adalah perahu khas Indonesia yang telah diakui kekuatannya saat berpetualang di lautan. Dengan inspirasi itulah, maka Alila Hotels merakit sebuah perahu phinisi dengan konsep hotel mengapung.


Alila Purnama adalah satu gaya unik untuk mengisi waktu pelesiran Anda. Diambil dari nama bulan penuh yang biasanya disakralkan oleh masyarakat tradisional Indonesia, Alila Purnama dikerjakan selama dua tahun dengan keseluruhan sentuhan Indonesia. Dari desainer, pekerja, hingga bahan baku semuanya diambil dari alam negeri ini. Setelah dua tahun pengerjaan, akhirnya perahu berkuruan 46 meter ini selesai dibangun. Alila Purnama memiliki dimensi panjang 46 meter, tinggi empat meter, memiliki tiga dek, dan mampu menampung kurang lebih 30 penumpang.

Terdapat lima kamar dalam Alila Purnama yang terdiri dari empat kamar suite standar yaitu tipe Bali, Cirebon, Mataram, Jawa, dan satu kamar master suite dengan ukuran paling besar serta memiliki pemandangan luar 180°. Master suite di Alila Purnama ini boleh jadi yang paling eksotis dan cocok untuk Anda yang ingin berbulan madu, balkon pribadinya sangat romantis dengan pemandangan laut lepas dan sensualnya sinar matahari yang menerpa. Untuk fasilitas, sepertinya tidak perlu Anda pertanyakan. Walaupun mengambang di tengah lautan, bukan berarti Anda terkungkung diam dalam kamar dengan kepala berputas karena mabuk laut. Alila Purnama telah menyiapkan ragam fasilitas seperti perpustakaan, lounge, bar, area makan indoor dengan 10 kursi.

Jika teknologi adalah kebutuhan primer menyangkut kepentingan bisnis Anda, fasilitas WiFi juga terdapat di kapal yang sangat bercita rasa Indonesia ini. Anda yang menginap juga dapat menikmati waktu bersantai di ruang berpendingin atau berjemur sembari menikmati pemandangan yang elok di dek luar. Sebagai catatan, untuk fasilitas WiFi tergantung dari daerah yang diarungi dan kekuatan sinyal satelit yang ditangkap. Dek utama pada kapal memiliki kasur-kasur bagi para tamu untuk berkumpul sambil bermandikan cahaya matahari, such a perfect for relaxing day or night and enjoying the fresh sea breezes! Jangan khawatir, fasilitas spa juga disiapkan Alila Purnama karena selama perjalanan, beberapa terapis spa ikut diboyong dalam perjalanan demi melengkapi nikmatnya pelesiran Anda. Sekadar tambahan, Alila Hotels terkenal dengan spa dan terapisnya yang dapat membius Anda dalam relaksasi maksimal!

Menjelajahi samudera mengapa tidak merasakan indahnya alam lautan di sekitar Anda? Jika Anda ingin menyelam, kru PADI dive center siap mendampingi dan memberi Anda pelatihan teknik-teknik menyelam. Advanced Open Water Diver dengan 16 spesialisasi seperti Enriched Air Nitrox, Deep, Peak Performance Buoyancy, Drift, dan Underwater Naturalist adalah ragam pelatihan yang akan Anda dapatkan. Aktivitas lain seperti yoga, kayaking, memancing, snorkeling, mengunjungi penangkaran mutiara atau komodo, sampai piknik dan BBQ adalah kegiatan yang sudah pasti membuat Anda terlena dengan surga dunia yang ditawarkan Alila Purnama.


Untuk taun 2013 ini, Alila Purnama akan melakukan ekspedisi bahari dengan tujuan Pulau Komodo pada bulan Maret sampai September. Masih di bulan September 2013, perjalanan akan berganti rute menyambangi Ambon si mutiara di timur Indonesia. Hmm, siapkan kocek yang cukup tebal untuk mencicipi kapal etnik mewah ini, karena satu paket perjalanan dengan 10 orang penumpang selama 7-9 berkisar 54.000 - 62.000 dolar AS (sekitar 500 juta Rupiah). Well, some people said travel brings power and love back into your life..

Perahu Phinisi Wonderful Indonesia

Jika traveling ke Bulukumba, Sulsel, siap-siap melihat perahu pinisi yang terkenal. Inilah ciri khas dari masyrakat Bugis yang mendunia. Tak heran, perusahaan dari India sampai AS kepincut untuk mendatangkan kapal gagah ini.

Haji Abdullah, begitulah ia disapa oleh warga di kawasan Kampung Lemo Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pengalamannya membuat kapal dari kayu tak perlu diragukan lagi. Pria berusia 60 tahun itu pun mengaku pernah membuat kapal seharga Rp 5 miliar yang diimpor ke India .

Abdullah sudah membuat kapal pinisi sejak tahun 1990-an. Biasanya ia merangkai kapal tersebut dengan bahan kayu besi dan jati. Satu kapal berukuran 50 ton dan bisa diselesaikannya dalam waktu empat hingga lima bulan. Tak perlu banyak yang membantu, Abdullah bisa menyelesaikan kapal tersebut dengan bantuan lima orang pengrajin.

"Maksimal lima orang, kapal nggak boleh banyak yang kerja karena seni, kalau banyak hasilnya nggak bagus," tuturnya saat disambangi detikTravel di kawasan Kampung Lemo Bulukumba, Sulawesi Selatan, Minggu.

Tak hanya ke India, negara seperti Belanda juga pernah membeli kapalnya. Abdullah mengaku menjual kapal sepanjang 40 meter tersebut seharga Rp 2 miliar!

Saat ditemui, ayah 6 orang anak itu terlihat tengah sibuk membuat sebuah kapal. Hampir 80 persen kapal tersebut sudah bisa digunakan. Ia menyebut kapal tersebut sebagai Petamara atau kapal restoran. Abdullah membuat kapal itu karena mendapat pesanan dari Thailand.

Dari bentuknya, berbeda memang dari kebanyakan kapal yang dibuatnya. Kapal restoran itu terdiri dari dua badan kapal yang disatukan sebuah jembatan.

"Kalau yang ini dipesan Thailand untuk restoran, harganya Rp 1 miliar," ujarnya.

Berbagai jenis kapal bisa dikerjakan Abdullah, mulai dari kapal ikan, kargo hingga pinisi. Dirinya pun sempat dikontrak di Amerika Serikat selama enam bulan untuk membuat sebuah kapal pinisi.

"Dikontrak enam bulan, bahannya di bawa dari sini pakai kontainer," kisahnya.

"Mereka terheran karena saya membuat kapal tanpa gambar, Kita mengatur juga sampai sisi stabiliser. Keseimbangan tergantung dari ukuran, memang harus dipasang satu-satu, mengukur kapal dari perasaan, nggak ada teknologi," akunya.

Abdullah mengaku kapal buatannya pernah ada yang tenggelam. Namun, bukan karena kesalahan manusia, melainkan faktor alam. "Pernah ada yang tenggelam, kapalnya kena bencana. Itu faktor alam," tuturnya.

Hampir semua kapalnya terbuat dari kayu. Ia juga mengaku kayu tersebut didapat dari Kendari atau Papua. Nggak takut habis, Pak, kayunya?

"Makanya jangan ditebang terus, tapi ditanam, bagaimana nanti ada penerus kalau ditebangi tanpa ditanam. Tapi saya percaya kayu tak akan habis, kayu itu seperti ikan, selalu ada," tuturnya optimis.

Mau lihat kapal pinisi yang terkenal hingga penjuru dunia? Ayo jalan-jalan ke Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Phinisi Berlayar Sampai ke Madagaskar

Kawasan pembuatan perahu phinisi terletak di Kabupaten Bulukumba, sekitar 150 kilometer dari Kota Makassar. Karenanya Kabupaten Bulukumba juga populer sebagai Butta Panrita Lopi (kampung ahli perahu), Masyarakatnya terkenal sangat piawai dalam membuat perahu phinisi yang diwarisi secara turun temurun.Perajin perahu akan ditemukan di hampir setiap pesisir pantai Bulukumba.
Untuk sampai ke lokasi pembuatan perahu phinisi di Bulukumba, tepatnya di Tana Beru,
dibutuhkan sekitar lima hingga tujuh jam perjalanan lewat darat dari Kota Makassar. Di pesisir pantai berjarak 24 kilometer dari Ibu Kota Bulukumba inilah tempat pertama kalinya perahu Phinisi Nusantara diluncurkan untuk mengarungi SamudPera Pasifik hingga ke Vancouver, Kanada, dengan dikomandoi nakhoda Ammanagappa. hinisi ini berlayar sampai Madagaskar, juga Hati Marege dan Damar Sagara yang masing-masing berlayar ke Australia dan Negeri Sakura, Jepang.

Pembuatan perahu diawali dengan upacara ritual spesifik yang sarat dengan nilai-nilai budaya setempat. Perahu dibuat menggunakan kayu pilihan, dengan memadukan keterampilan teknis dan kekuatan magis

Pada setiap bagian kapal sarat dengan falsafah hidup. Masyarakat setempat yakin bahwa kemampuan mereka membuat perahu lebih karena kedekatan mereka pada alam dan “sukma” laut. Keahlian para panrita lopi dari Bulukumba sudah terkenal sampai ke mancanegara. Umumnya adalah pesanan orang Eropa.

Teknik pembuatan kapal tradisional phinisi yang dibuat masyarakat Bulukumba terbilang unik, karena tidak lazim dan menyimpang dari teori umum teknik perkapalan

Kalau pada pembuatan perahu modern yang dibuat terlebih dahulu adalah rangka kapal kemudian diberi dinding, maka perahu yang dibuat orang di Tanah Beru justru kebalikannya. untuk membuat perahu itu, mereka membuat dinding dahulu, baru kemudian diberi kerangka atau solloro.

Namun anehnya, saat proses pengapungan kapal di lautan, desain kapal yang biasanya tanpa gambar dan hanya mengikuti naluri si pembuatnya, justru memiliki keseimbangan yang luar biasa. Lebih kuat dan tahan ombak dibandingkan dengan perahu yang dibangun mulai dari rangkanya dulu.

Kapal phinisi sesuai desain awalnya, juga tidak menggunakan paku melainkan pasak kayu dan kulit kayu untuk menutupi celah-celah dinding perahu.

Pembuat Perahu Phinisi Kepincut Suzuki Ertiga

BULUKUMBA - Rombongan touring Suzuki Inazuma Born to Adventure, Makasar-Tana Toraja-Makasar, menyempatkan diri berkunjung ke tempat pembuatan kapan phinisi.

Dalam kesempatan ini, rombongan menyambangi kediaman H. Abdullah Hasan, salah satu pembuat kapal Phinisi ternama di Kelurahan Tanah Lemo, Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Berlokasi di bibir pantai, pria 52 tahun ini mempekerjakan 6 orang pegawai kepercayaan yang masih sanak keluarga. Dirinya mengaku mulai menekuni bisnis pembuatan kapal phinisi sejak dekade 90-an.

"Kalau mulai bikin kontrak seperti ini sejak 90-an. Kontrak-kontrak kecil sudah ada sejak 80-an. Saya bikin sudah sampai Amerika Utara, Kanada,"

Abdullah mengaku keahlian dalam membuat kapal ini merupakan turunan dari sang ayah yang juga warisan dari sang kakek.

Untuk diketahui, Abdullah menerima pesanan berbagai model kapal mulai dari bentuk pesiar hingga kapal kargo. Proses pengerjaannya cukup memakan waktu lama dengan biaya hingga miliaran rupiah.

Menurutnya, bentuk pesiar memiliki ukuran mulai dari 40 hingga 500 ton. Model 500 ton memakan waktu hingga setahun dengan harga mencapai Rp3 miliar "Itu hanya bodi, lengkap dengan mesin Rp5 miliar," tandasnya.

"Kalau model kargo ukurannya mulai 50 sampai 1.000 ton. Harga bodi saja Rp4 miliar, waktu pengerjaan satu setengah tahun." tambahnya.

Sementara itu, pria yang telah menyelesaikan 20 kapal sejak tahun 90-an ini ternyata memiliki hasrat tersendiri soal mobil idaman. Dirinya mengaku penggemar berat merek Suzuki. Dirinya pun berniat untuk membeli MPV Ertiga.

"Saya suka Suzuki. Motor saya Suzuki, mobil saya Suzuki, kalau ada uang saya mau beli Suzuki lagi, Ertiga. Yang di iklan tv itu, mobil keluarga." tukasnya.

The Legends, The Pride of Indonesia and The Forgotten

That is the story 23 years ago. The mission is designed to cruise the archipelago Phinisi participate in Expo ’86, held in Vancouver, Canada. The entire project was initiated cruise and managed by Phinisi Indonesia Raya (YPIR) who chaired Admiral TNI (Ret.), bulb weight Update. Ship that has a length of 37 meters and weighing 120 tonnes of this historic voyage began on July 9, 1986.
Departing from the pier fishing Muara Baru, North Jakarta with the aim of Vancouver. Shipping routes traversed by a rough with waves reportedly up to 7 meters tall. Much higher than power lines. Moreover, according to Capt.. Gita, they must sail against the wind. After driving as far as 10 600-mile voyage that took over 68 days they finally reach the destination successfully, Vancouver.

Timber Ship with an International Reputation

Marine Plaza at the port, the ship and its crew a lot of acclaim from the Vancouver community. They say every day the ship was visited by no less than 3,000 visitors. Especially on September 21, 1986,  25 000 visitors visited the Phinisi archipelago. City of Vancouver’s maritime history has particularly long. For them, the arrival of Phinisi Nusantara, a timber ship with an international reputation for successfully crossing the Pacific Ocean was really enthusiastic attention. Reportedly, the arrival of the archipelago in the arena Phinisi Expo ’86 with immediate alacrity to make a stand Indonesia rarely visited by people who originally was suddenly full of visitors.
Indonesia stands even got an award in the form of railway spikes, which is a symbol of commemoration of 100 years of Trans Canada who became a symbol of past transportation. This award is only given to the three participating countries Expo ’86 which was considered the most spectacular. Nusantara Phinisi time it really catapulted the name of Indonesia in international eyes.
Internationally, Pinisi welknown since 1906 ago. The boat is the most modern form of traditional ships Bugis-Makassar people who have undergone a long evolutionary process. The ship was built as a sailing boat with two poles and seven to eight strands of the screen. In general these are small boats with a capacity between 20 to 30 tons and length between 10 to 15 meters. Almost the entire manufacture of boats made with simple techniques and use the power of the engine is very minimal.

Flashback History of the Phinisi Sailing Boat

At the southern tip of Sulawesi island, local people built a nautical tradition for hundreds of years. The stories about the courage of the sailors Bugis, Makassar, Mandar, and Konjo has become a byword down to a distant country across the ocean. The beauty and robustness in the face of malignancy boat ocean waves, has produced stories of heroism are admirable.
The story of the boat from Tanah Beru, Phinisi and the sailors from the Bira, Bulukumba, who drove it, now is not the familiar story. But not many realize greatness of sailors from the southern tip of Sulawesi, was built from a long tradition. This culture is based on the myth of the creation of the first boat by their ancestors.
Once Upon A Time in the mythology of Beru Land community, the ancestors they created a bigger boat to sail the seas, carrying merchandise and catch fish. When the first boat made, boat succesfully at sea. But an accident happened on the  Sea. Waves and storm struck the boat and destroy it. Body parts dumped in the village of Ara boats, sails and landed at Cape Bira it landed in the Land of Lemo.
The incident seemed to be a symbolic message for the Ara village. They must beat the sea with their cooperation. Since the incident, people only specialize Ara as the boat maker. People who acquire the remaining screens pleased specialized boat to learn astrology and the signs of nature. Lemo-Lemo While people are entrepreneurs who memodali and use the boat. The tradition of segregation of duties that has lasted for years that finally led to the creation of a traditional wooden boat called Phinisi.

Full Ritul in Pinisi Boat Building

Now the mystical beliefs of the ancient mythology is still strong in every process of making Phinisi. Beginning with a small ritual, boats Phinisi made after cutting ceremony in full. The ceremony was presided over by a boat handler called Panrita Lopi.Various offerings to the requirement that they not be left in this ceremony as all snacks should taste sweet and a white rooster was still healthy. Snacks in order to generate the desire of the owner of the boat will bring higher profits. A little blood from a white cock attached to the boat hull. The ritual as a symbol of hope that no blood spilled on the boat that will be created.
Then, his head cut off both ends of the hull builders and submit it to the boat-making leader. The tip pieces settled to the sea front in the exhaust as a sign that the boat can be fused with the waves in the ocean. Being settled back in pieces thrown to the ground as far as boats go to sea reminded that he should return safely to shore. In the end, proclaiming Lopi Panrita prayers before the Creator.

Parts of the ship phinisi

  1. Anjong, the triangle in front as ballast.
  2. Sombala aka the main screen, large size reaches 200 m.
  3. Triangular Tanpasere small screen in each main pole.
  4. Cocoro pantara or auxiliary display in front.
  5. Aka tangnga Cocoro auxiliary screen in the middle.
  6. Tarengke auxiliary screen in the background.

Best Quality Schooner Producer in the World in Bulukumba

Indonesia today is being filled with the hustle and bustle of the interests of many parties. Things that should be considered instead to be ignored. The things that once made this country proud, now forgotten. While most of our territory is ocean. But instead of getting behind our oceans. Like the fate of the archipelago that now terlunta Phinisi-stranded even if they’ve scored remarkable achievements. And maybe have a lot of Indonesian people who can not remember the song “My ancestors sailors.”
Related to this story phinisi ship, had no fear of the people in Bulukumba, South Sulawesi, that phinisi ship design will be submitted by the foreign patent rights. Given the manufacturing centers phinisi boat or Phinisi vessel of the largest in the world is located outside of Indonesia. Examples centers that only exist in several countries such as Japan, Australia, Malaysia and Brunei. Previously, Bulukumba already famous as a first producer of phinisi ship with the best quality.

This notorious oceans conquered by a ship made of wood, Phinisi Archipelago. Although initially the mission of this spectacular cruise doubt many people, but Capt. Ardjakusuma Gita along with 11 people crew managed to accomplish this task properly. Obstacles on the path to the notoriously dangerous voyage in the Pacific Ocean can be overcome by good until Phinisi Nusantara safely docked in Vancouver.

Perhaps many of the Squire who still remember about a sailing ship made of wood and named Phinisi Archipelago. This ship has a name that is legendary and almost all sailors in this country knows this name. Phinisi Nusantara has indeed been noted as successful historic voyage across the Pacific Ocean to get to Vancouver, Canada.

 

 

 

Building Your Own Boat : Boat Parts – First Step of Wooden Boat Building


Boat building, one of the oldest branches of engineering, is concerned with constructing the hulls of boats and, for sailboats, the masts, spars and rigging.
Parts
* Bow – the front and generally sharp end of the hull. It is designed to reduce the resistance of the hull cutting through water and should be tall enough to prevent water from easily washing over the top of the hull.
* Bulkhead – the internal walls of the hull
* Chines – are long, longitudinal strips on hydroplaning hulls that deflect downwards the spray that is produced by the hull when it travels at speed in the water. The term also refers to distinct changes in angle of the hull sections, where the bottom blends into the sides of a flat bottomed skiff, for instance. A hull may have 2 or more chines to allow an approximation of a round bottomed shape with flat panels. It also refers to the longitudinal members inside the hull which support the edges of these panels.
* Deck – the top surface of the hull keeps water and weather out of the hull and allows the crew to stand safely and operate the boat more easily. It stiffens an enclosed hull.
* Garboard – the strake immediately adjacent to the keel.
* Gunwale – The upper longitudinal structural member of the hull.
* Keel – the main central member along the length of the bottom of the boat. It is an important part of the boat’s structure which also has a strong influence on its turning performance and, in sailing boats, resists the sideways pressure of the wind
* Keelson – an internal beam fixed to the top of the keel to strengthen the joint of the upper members of the boat to the keel
* Rudder – a steering device at the rear of the hull created by a turnable blade on a vertical axis
* Sheer – the generally curved shape of the top of the hull. The sheer is traditionally lowest amidships to maximize freeboard at the ends of the hull. Sheers can be reverse, higher in the middle, to maximize space inside or straight or a combination of shapes.
* Stem – a continuation of the keel upwards at the front of the hull
* Stern – the back of the boat
* Strake – a strip of material running longitudinally along the vessel’s side, bilge or bottom
* Transom – a wide, flat, sometimes vertical board at the rear of the hull, which, on small power boats, is often designed to carry an outboard motor. Transoms increase width and also buoyancy at the stern.
 
Source:http://boatbuildingindonesia.com/building-your-own-boat-boat-parts-first-step-of-wooden-boat-building.html




Phinisi Boat Building Industry and Tanjung Bira Beach Resort


Located at the most southern tip of South Sulawesi’s peninsula, 153 kilometers south of Makassar, lies the district of Bulukumba , holding hidden marvels in its pristine beaches, underwater gardens, and   unique maritime culture. The district is also known as Butta Panrita Lopi or ‘the land of the phinisi schooners” for its long tradition in building these majestic crafts, the pride of the Bugis people.


 


According to the ancient I La Galigo manuscript, phinisi schooners have been built since the 14th century. These  schooners are mostly crafted  in the area called Tanah Beru, located about 23 kilometers from the capital of Bulukumba, or 176 kilometers from Makassar.
Along the shores of Tanah Beru, you will see tens of dry-docks where phinisi schooners are in various stages of construction. Here the skillful hands of the Bugis with amazing precision, carefully craft the Phinisi that has become the icon of Indonesian seafaring. The Phinisi is built using traditional equipment following exact prescribed traditional techniques that have been passed down from generation to generation. Its construction does not only involve strength and technique but also – as the locals believe – supernatural powers, for which every stage requires strictly adhered rituals and ceremonies.

(More information on the construction of the phinisi can be found at: The Bugis Phinisi Schooner)
Further south, at the most southern tip of the district, about 200 kilometers from Makassar, the secluded white sandy beach, crystal clear calm waters and indulging breeze await at the Tanjung Bira Beach. Its location alone has made it a special place, where the sun rises and sets magnificently along a straight line.  Here the luxurious Amatoa Resort provides magnificent views on the vast spreading white sand,  making this a perfect spot for sunbathing, snorkeling and diving.  

Far on the horizon, the scenic view of the island of Selayar adds to the splendor of the beach. While, not too far from shore, the Liukang and Kambing or Goat Islands welcome visitors to step in their pristine environment. There are several boats along the coast that are more than willing to take you to the islands. The seas off Tanjung Bira and around Selayar are also ideal for diving. Around Bira are fringing reefs, but most outstanding by far are the sheer walls at Kambing island, where a stark slab of rock rises out of the ocean between Bira and Selayar. Here the coral cover and schools of fish offer fantastic underwater scenes.

The word “Bulukumba” is believed to be derived from the Bugis phrase “Bulu’ku Mupa”, which loosely translated means “still my mountain”. The name appeared in the 17th century, when a war broke out between two kingdoms of South Sulawesi, namely the kingdoms of Gowa and Bone.  At the time, the ridge of Mount Lompobattang ,  known as “Bengkeng Buki”, -  which means “foot of the hill”, -   was claimed by The Gowa Kingdom.  The Bone Kingdom, however, refuted the claim and defended the area with all they had.  From this battle came the passionate outcry: ”bulu’ku mupa!” or “still my mountain”. Gradually its pronunciation shifted to cover the entire area of  Bulukumba.

Bulukumba is also the home of a special ethnic group called the Kajang. For centuries they inhabited the interior area of the Kajang regency in an area called Tana Toa, which they regard as having been bestowed to them by their ancestors. Until this day, the Kajang still practice age -old traditions and ways of life that teach men to maintain perfect harmony with nature. Living in simplicity, none of the houses have any furniture, electricity, and other modern convenience.The Kajang also wear black as their daily attire.  For to the people of Kajang, modernity deviates from customary rules and ancestral teachings.
Watching the magnificent phinisi schooners being built, enjoying the white beaches, and the splendors below the sea, Bulukumba is  truly worth a visit as you venture into the wonders of South Sulawesi.

Phinisi There Is Tanahberu Bulukumba INDONESIA

Village residents asked TRY Land Lemo, Ara, and Bira in Bulukumba, 150 km from Makassar. Anyone of them could make Phinisi? Simultaneously they will be held up her index finger: "Our experts make it Bugis boat." On the hard earth freshwater birthplace of the sailors, established as a pillar Phinisi customary. Look along the coast of Land Lemo. Bitti wood pieces scattered. In some simple dock, which was composed of wood, keel boats already integrates with the framework.

Patorani, sturdy pole boat, ready planted. From there, soon, a traditional boat ready . Can Phinisi, palori, or lembo, three boat name. No longer Bitti "All parts of sea water has been," vowed Bugis sailors. So, many already are interested in Phinisi toughness.

Cormerais, French screen teacher who mated pole patorani with the mechanical screen. Phinisi biological mother on the beaches of Bugis. Phinisi worked so long in a simple, until last March when the cooperative formed in the area of ​​production of the Land boat Lemo, Bulukumba

Come down capital assistance from the Government amounting to USD 150 million. So, from the bivouac, bivouac, there came a whistling and pounding hammers chainsaw, build a boat that worth USD 30 million. That's where the artists work in wholesale boat, chasing income of Rp 120 thousand per month. But, listen too drums, laughter. And the little children who ask for pen and money to his guest. Now, as spelled Ahmed Nur, the manager of the boat Ammana Gappa, no longer lonely because investors bitti wood. Even a new skipper skipper aliases when looking for his men drove the boat ready

Making Watching Boat Phinisi in “Butta Panrita Lopi”

When visiting the land of Makassar, usually take home souvenirs that are miniature Phinisi traditional sailboat that can be found in Chinatown souvenir shop area Somba Opu, Makassar.

But if you have enough time, the tourists can also visit the region directly to the actual boat building Phinisi Bulukumba District, about 150 kilometers from the city of Makassar.

Bulukumba which is also known as Butta Panrita Lopi (local expert boat), the people known to be very skilled in making the boat Phinisi. These skills are heritage in this area which is known as an accomplished sailor community. No wonder, if the crafters boat will be found in almost every coastal Bulukumba.

On the coast is 24 kilometers from the capital city where the first time this Bulukumba Phinisi archipelago boat to sail the Pacific Ocean was launched up to Vancouver, Canada, with skipper Ammanagappa commandeered. This Phinisi sailed to Madagascar, also Heart Marege and Damar Sagara, each of which sailed to Australia and the State Sakura, Japan.

Being in this place, of course, will make us feel amazed to see the public's familiarity Bontobahari making traditional boats. In addition, if coinciding with the early moments of boat building, we can also see the specific ritual laden with local cultural values​​.
Admiration see traditional boat building Phinisi will progressively increase, after following the manufacturing process. Because the boats that use wood that choice, made ​​by combining technical skill and magical powers, and unique each part of the ship is loaded with a philosophy of life.    

Big Boat from Little Village

 If you see the grandeur of traditional sailboat pinisi which has hundreds of tonnes of carrying capacity and the ability to cruise up to the African continent, we might not expect if the ship were made by residents in a small village in the district Bontobahari, Bulukumba regency, South Sulawesi Province. How to build it was very original and unique, starting from preparing the skin and create a skeleton ship.

Place pinisi shipbuilding in Bira peninsula, namely in the village of Ara, Lemo-Lemo, and Bira. Residents in the village had been handed down over the traditional shipbuilding. Thousands of wooden vessels that often rely on the Sunda Kelapa port in Jakarta, Surabaya Kalimas or on the harbor people in Indonesia, even made ​​with manufacturing techniques that require a touch pinisi people from the Peninsula Bira.

That said, the science of making the ship has been revealed to the residents of three villages in the peninsula Bira from Bugis-Makassar nobility, Sawerigading. Syahdan, the ship used by the central figures of mythology Sawerigading South Sulawesi sea rolled up in pieces. Then the hull was stranded in the village of Ara. The bow and stern stranded at Lemo-Lemo village. Keel, rudder, and sails were stranded in the village of Bira. Of the fraction that flowed science to make the ship pinisi

So stupid-stupid people Bira if it is above the ship definitely smart. People Bira got heritage display and steering wheel so that a great sailor. Clever-clever people making the stomach, it will not work better than those artificial gastric Ara. We Lemo-Lemo people make the bow and stern, though now we also become sailors, "said a shipyard owner, Haji Abdullah (49) which mythology retelling it in galangannya in Lemo Land Coast, west coast of Peninsular Bira, about 23 km southeast of the capital Bulukumba.

Mythology is a way of life people lead Ara, Lemo-Lemo, and Bira. A Lemo-Lemo like Yusman (17) had left school, and now learning to be a courtier or pinisi maker. He followed his uncle's apprentice, Baso (35), the chief retainer of the shipyard Abdullah. "I left school since 4th grade," said Yusman kandole putting pieces of wood in the court yard, between the spread of dust and wood chips behind the stern pinisi claim Abdullah.


Began to attack the wood splitting, shaping it into stakes 3 cm in diameter. Yusman stakes will assemble wooden planks forming the hull along the 37.5-meter pinisi. Yusman worked in silence, following the rhythm of the sound waves that shouted to the electric buzz of crabs, sanding machine, dentam chisel hammers collided. Baso smile looked Yusman. "Now he may only make a peg, set up cables and carpentry tools, as well as store it. But there will be time for Yusman to come work on the ship, "Baso said.

Perseverance Yusman make peg by peg that will continue the tradition of the peninsula Bira as pinisi boat maker. In their hands, wooden boat with mast following two seven-screen text that is not just history, though legend has a long record pinisi.
 

Shipyard Tour Phinisi

 

© Copyright Phinisi Boat 2010 -2011 | Design by Hantu Facebook | Published by Phinisi Boat | Powered by Blogger.com .